Tatar sunda

Lembaga Ini Hidupkan Kembali “Sunda” dalam Saung di Tengah Empang

 Jangan lihat buku hanya dari covernya saja, mungkin itulah kata kata yang tepat untuk menggambarkan Tatar Sunda, Lembaga Adat Tatar sunda ini memiliki ciri khas unik untuk melestarikan budaya leluhur, Bagaimana tidak, Saung yang berada di tengah empang Lembah Juring Desa Situ Ilir Kecamatan Cibungbulang ini dijadikan sarana untuk mengenal lebih dalam mengenai tradisi leluhur, 

Selain tempatnya yang sejuk dan memiliki letak geografis dekat pegunungan tempat dan bentuk saung tersebut memang dibiarkan begitu saja, guna memberikan kesan merakyat  yang sejuk nan nyaman, Ketua umum Lembaga Adat Tatar Sunda Diansyah Putra atau biasa dipanggil Abah Gumay mengatakan “Beberapa inspirasi memang terkadang lahir dari tempat seperti ini”. 

Tak hayal beberapa ornamen — ornamen kesundaan pun turut menghiasi saung ini seperti wayang cepot, gendang, dan beberapa alat musik tradisional yang masih sangat terawat, di saung ini juga terdapat goa (begitu orang orang sekitar menyebutnya), goa yang berada di ujung saung ini memiliki beberapa peninggalan peninggalan sejarah sunda, seperti alat alat rumah tangga tradisional zaman dahulu, hingga beberapa keris berbahan meteorit seberat tiga puluh kilogram yang dipecah, benda benda peninggalan tersebut di bersihkan secara rutin dengan menggunakan tradisi menyiram dan di beridoa supaya keasrianya terjaga.

Dokpri

DokpriAktivitas — aktivitas kebudayaanpun turut dilakukan di saung ini, mulai dari menembangkan kakawihan khas sunda, bahkan untuk pelatihanya sendiri sudah memiliki beberapa anggota profesional yang sudah sangat mahir dalam memainkan alat musik sunda tersebut, adapun aktifitas proses belajar mengajar aksara sunda yang di lakukan guna melestarikan bahasa sunda yang kini sangat kurang diminati oleh remaja khusunya , Hingga pelatihan pencaksilat tatar sunda,

Pencaksilat tersebut memberikan beberapa penghargaan mulai diperoleh oleh lembaga adat tatar sunda salah satunya adalah Festival pencak silat grand open yang membawa beberapa pendekarnya maju sebagai juara tak tanggung tanggung pendekar — pendekar silat di bawah bimbingan Ki Edhi 

Salaka ini meraih satu emas, tiga perak, dan tujuh perunggu, pencaksilat yang diajarkan di Lembaga adat tatar sunda ini pun memiliki beberapa perbedaan dengan beberapa pencaksilat yang di ajarkan di tempat lain, “pencak silat di sini menggabungkan beberapa gerakan pencaksilat yang di improfisasi supaya tidak terkesan monoton dan lebih berkembang.”ujar Ki Edhi Salaka selaku pengajar silat sekaligus sekjen lembaga tatar sunda. Kini Lembaga tatar Sunda yang sudah berdiri selama 5 tahun bahkan sudah memiliki lima belas ribu lebih anggota yang tersebar di beberapa daerah di indonesia, yang di harapkan bisa lebih banyak mengenalkan lagi kebudayaan sunda hingga ke skala internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *